BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.COM – Bank Indonesia secara konsisten dan berkesinambungan terus mendorong pengembangan dan pemberdayaan UMKM sehingga menjadi naik kelas, termasuk di Wilayah Kerja KPwBI Balikpapan.
Langkah strategis ini, menurut Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, merupakan upaya untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan signifikannya peran UMKM dalam penyerapan tenaga kerja, kontribusi dalam perekonomian, serta potensi dalam pengembangan ekspor.
“Pada sisi yang lain, pesatnya perkembangan pasar digital, termasuk melalui marketplace menjadi fenomena yang juga harus dihadapi oleh sejumlah UMKM, sehingga harus mengakomodasi demand masyarakat yang mulai berubah pola konsumsinya pasca pandemi Covid-19, karena potensinya yang besar,” kata Robi.
Dia menjelaskan, Di tengah kondisi tersebut, berkembangnya artificial intelligent (AI) dalam skema penjualan, juga menjadi tantangan.
Lebih lanjut Robi mengungkapkan, perkembangan UMKM saat ini menghadapi tantangan dalam transformasi ke ekosistem digital, mulai dari terbatasnya kemampuan dalam pemasaran online, kualitas konten yang cenderung bersifat umum dan sederhana, hingga berkembangnya pemanfaatan data/teknologi melalui pemanfaatan artificial intelligence yang umumnya belum terakses dan dipahami oleh pelaku UMKM.
“Persaingan di platform digital saat ini semakin ketat termasuk penggunaan alogaritma untuk mendukung penjualan, sementara dinamika kebijakan dan model bisnis marketplace, termasuk adanya isu rencana kenaikan platform fee juga menjadi tantangan tersendiri yang dapat meningkatkan biaya usaha dan menekan margin UMKM, terutama yang sangat mengandalkan penjualan online,” ujar Robi.
Untuk itu, tambah Robi, penguatan kapasitas digital menjadi penting, agar usaha UMKM memiliki kemampuan beradaptasi dan tumbuh secara berkelanjutan melalui diversifikasi kanal, penguatan branding, serta peningkatan efisiensi usaha, serta perluasan akses pasar.
Mencermati berbagai peluang dan tantangan tersebut, Robi Mengatakan, khususnya terkait dengan perkembangan digital, KPwBI Balikpapan melanjutkan komitmennya dengan menginisiasi Program Onboarding DIGDAYA (Digitalisasi untuk Peningkatan Daya Saing) UMKM tahun 2026.
Pelaksanaan kegiatan onboarding UMKM telah dibuka sejak 20 Mei 2026, yang diawali melalui pelaksanaan sesi workshop offline selama tiga hari pada tanggal 20–22 Mei 2026, bertempat di KPwBI Balikpapan.
“Langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem UMKM yang adaptif, inovatif, dan mampu bersaing di era transformasi digital,” ucapnya.
Menurut Robi, Program DIGDAYA UMKM 2026 dirancang tidak hanya sebagai pelatihan semata, melainkan juga sebagai rangkaian program pembinaan UMKM yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan terstruktur.
“Melalui program ini, KPwBI Balikpapan mendorong pelaku UMKM untuk mampu mengoptimalkan pemanfaatan platform digital dalam menjalankan usahanya, mulai dari pemasaran, transaksi pembayaran digital, penguatan branding, hingga perluasan akses pasar digital,” terang Robi.
Pelaksanaan program Onboarding DIGDAYA tahun 2026 diawali dengan proses penjaringan dan kurasi peserta secara selektif, bekerjasama dengan Otoritas Ibukota Nusantara (OIKN), Pemerintah Kota Balikpapan, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, dan Kabupaten Paser, serta sejumlah korporasi besar yang membina UMKM, serta perbankan.
Sejumlah 160 calon peserta UMKM mengikuti tahapan seleksi dan kurasi awal untuk memperoleh kesempatan mengikuti program ini.
Para peserta tersebut merupakan hasil rekomendasi dan bentuk sinergi berbagai stakeholder, yaitu Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari tiga daerah, korporasi besar, perbankan, serta mitra strategis lainnya yang memiliki perhatian terhadap pengembangan UMKM di wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU), Paser, dan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dari keseluruhan peserta yang mengikuti proses kurasi, terpilih sebanyak 44 UMKM yang dinilai memiliki potensi yang besar untuk maju dan berkembang, memiliki komitmen yang kuat, memiliki kesiapan usaha untuk berkembang, dan memiliki potensi prospek dan pengembangan untuk mengikuti Program DIGDAYA UMKM 2026.
Peserta yang lolos berasal dari berbagai sektor usaha, mulai dari makanan dan minuman olahan, fesyen, hingga produk kerajinan.
Selama tiga hari pelaksanaan program DIGDAYA UMKM 2026, peserta memperoleh berbagai materi penguatan kapasitas usaha yang disampaikan oleh narasumber praktisi dan pendamping profesional di bidang pengembangan digitalisasi UMKM.
Materi yang diberikan mencakup aktivasi dan optimalisasi media sosial untuk bisnis, pengelolaan toko online di marketplace nasional, strategi sukses penjualan di marketplace, pengembangan usaha (business scale up), pemanfaatan program afiliasi, strategi penjualan melalui live selling, pemanfaatan teknologi AI untuk mendukung proses bisnis, penguatan aspek legalitas usaha, hingga optimalisasi website untuk mendukung pertumbuhan bisnis UMKM.
Selain itu, peserta juga dibekali literasi keuangan bisnis guna mendorong keberlanjutan usaha.
Tidak hanya menerima materi secara klasikal, peserta juga terlibat dalam diskusi interaktif, praktik, serta presentasi scale up project yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman secara aplikatif.
Melalui pendekatan ini, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan strategi digitalisasi dan pengembangan usaha secara nyata dalam aktivitas bisnis sehari-hari.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, kegiatan DIGDAYA UMKM 2026 akan dilanjutkan dengan tahapan pendampingan intensif pada periode Mei-Juni 2026 melalui online meeting dan one-on-one coaching session.
Pendampingan tersebut bertujuan untuk membantu peserta dalam mengatasi tantangan spesifik yang dihadapi masing-masing usaha selama proses implementasi digitalisasi.
Pada periode Juli hingga Oktober 2026, KPwBI Balikpapan bersama mitra pendamping akan melaksanakan monitoring berkala melalui monthly meeting, untuk mendukung perkembangan usaha, mengevaluasi implementasi materi onboarding, serta memastikan transformasi digital UMKM.
Program Onboarding DIGDAYA UMKM 2026, terdapat sejumlah output yang ditargetkan, yang terdiri atas:
- Meningkatnya literasi dan kapasitas digital pelaku UMKM.
- Terbentuknya akun bisnis dan toko online aktif pada marketplace maupun media sosial.
- Meningkatnya pemanfaatan pembayaran digital khususnya QRIS.
- Meningkatnya kualitas branding dan konten promosi produk.
- Meningkatnya kemampuan UMKM dalam memperluas akses pasar dan meningkatkan transaksi penjualan melalui kanal digital.
Selain itu, program ini juga diharapkan mampu menciptakan UMKM mitra yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki tata kelola usaha yang lebih baik, serta mampu menjadi role model pengembangan UMKM digital di wilayah masing-masing.
Dalam jangka panjang, program ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan, melalui terciptanya UMKM yang tangguh, produktif, dan berdaya saing tinggi, sehingga menjadi naik kelas.
“Ke depan, KPwBI Balikpapan akan terus memperkuat sinergi dan inovasi program pengembangan UMKM bersama stakeholder dan mitra terkait, sebagai bagian dari upaya untuk mendukung penguatan kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, inklusi dan berkelanjutan, termasuk dengan memanfaatkan momentum berkembangnya digitalisasi ekonomi daerah,” tutup Robi. (*/Michael)
