BALIKPAPAN, CAHAYAKALTIM.com – Menggeluti sejak tahun 2019, Abon Ikan Asin Layur Amiroh di Balikpapan, memang sangat berpotensi dalam mengambangkan Bisnis ini. Namun tantangan pun datang ketika Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ini mulai banyak diminati.
Sejak beroperasi, penghambat laju produksi Abon Amiroh ini sudah dirasakan, yakni persoalan pemisahan daging dengan tulang, sebab ikan layur sendiri memiliki banyak tulang yang mirip duri, jadi harus dilakukan secara manual.
“Proses pemisahannya yang cukup banyak memakan waktu. Perlu banyak tenaga kerja yang banyak untuk bisa cepat. Namun kalau banyak tenaganya, harus banyak juga pendapatannya. Dan saya belum sanggup untuk membiayai banyak tenaga kerja,” kata Founder Abon Ikan Asin Layur Amiroh Balikpapan, Amiroh.
Kendati demikian, kesulitan itu bukan menjadi penghambat, Ibu yang kini berstatus janda ini. Dia terus mencari cara untuk mengatasi itu.
Berbekal konsistensi Amiroh memanfaatkan potensi ikan layur dan memberdayakan warga sekitar, yang kemudian berhasil mendapatkan pengakuan sebagai UMKM berprestasi di Balikpapan.
Usaha Abon Amiroh ini pun menuai perhatian dari pemerintah Kota Balikpapan, hingga instansi BUMN serta Bank Indonesia.
Alat yang digadang sebagai pelepas kekhawatiran pun didapatkan berkat bantuan sosial dari instansi BUMN, namun hasilnya tak efektif. Mesih yang disediakan belum bisa menterjemahkan dengan sempurna, sehingga tetap menggunakan pekerja untuk proses pemisahan daging dan tulang.
“Sangat disayangkan memang, mesin ada tapi tak bisa digunakan karena hasilnya kurang bagus karena tulangnya ikut. Jadi pakai manual kembali,” ujar ibu beranak 3 yang sudah memiliki 2 orang cucu ini.
Selain tantangan tersebut, ketersediaan bahan baku juga menjadi faktor utama yang dikhawatirkannya. Kalo pun tak terpenuhi, sebagai penggantinya Amiroh menggunakan Ikan Otek untuk dipadukan dan itu tak selalu, karena berpengaruh terhadap rasa dan kualitas produk.
“Seminggu sebelum belum produksi, kami harus memesan bahan bakunya. Artinya sebelum produksi kami melihat ketersediaan bahan baku terlebih dahulu. Bila di Balikpapan tak cukup, saya mencarinya di Samboja, Samarinda hingga ke Bontang,” kata Amiroh.
Sekali produksi, Amiroh harus menyiapkan 10kg Ikan Layur dan proses pemilahannya cukup lama walau dikerjakan siang dan malam.
Pasar Abon Amiroh sendiri sempat memuncak ditahun pertama produksi. Kurang lebih 34 Kota dan Kabupaten terjamahnya. Akan tetapi semuanya runtuh saat terjadi Covid 19, sempat terpuruk dan bangkit kembali secara pelahan-lahan.
Sertifikasi Ekspotrt Bank Indonesia
Untuk sekarang, kata Amiroh tetap produksi terbatas. Walau sudah mendapat berbagai pengakuan UMKM berprestasi serta sertifikat eksport berkat dorongan dan binaan Bank Indonesia, namun belum bisa dipenuhi karena produksi yang masih terbatas.
“Sebagai UMKM berprestasi dari Wali Kota Balikpapan, dan pengakuan serta binaan dari Pertamina, Bank Indonesia, PLN hingga Dinas Pemkot, belum bisa memenuhi untuk eksport. Ada permintaan dari Indomart dan Alfamart, namun belum sanggup memenuhinya karena produksi kami belum mumpuni,” ujar Amiroh.
Hal tersebut, bukan menjadi halangan Amiroh untuk berkontribusi dalam mendongkrat perekonomian di Kota Beriman ini. Abon Ikan Layur tetap dia jaga untuk terua produksi.
Terlepas dari pada itu, Abon Ikan Asin Layur Amiroh, diterima oleh masyarakat, bahkan telah mencuri perhatian pemerintah dan instansi BUMN hingga Bank Indonesia serta perusahan swasta.
“Walau kondisi sekarang masih terganjal soal produksi, saya tetap konsisten dan terus lanjutkan usaha ini. Karena yang terpenting adalah, bagaimana mencari solusi untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga hingga warga dan Nelayan. Bagi saya itulah inspirasi usaha kecil yang saya tekuni ini,” kata Amiroh.
Selain usaha Abon Ikan, Amiroh juga menjalankan usaha kecil lain, seperti warung nasi goreng dan nasi kuning, pentolan berbagai varian rasa, Mpek-mpek hingga aneka jus segar.
“Semua saya lakukan yang terpenting hasilnya baik. Ini juga saya lakukan karena pasca bangkrut akibat Covid 19 yang meninggalkan banyak tanggungjawab hingga 6 tahun kedepan untuk mengangsurnya. Akan tetapi bisnis Abon ikan inilah yang membuat usaha saya mulai bangkit dari keterpurukan,” kata Amiroh yang juga berprofesi sebagai guru di SD IT Almunawaroh.
BI Konsisten Dorong Pengembangan UMKM
Sementara itu, menurut Kepala Kantor Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi mengatakan, BI memiliki peran penting dalam mendorong pengembangan UMKM di wilayah Kalimantan Timur, termasuk UMKM pengolahan pangan seperti Abon Ikan Asin Layur “Amiroh”.
“Dalam upaya tersebut, BI tidak hanya berfokus pada aspek pembiayaan, tetapi lebih luas pada pembinaan menyeluruh yang bertujuan meningkatkan kualitas, daya saing, dan keberlanjutan usaha,” kata Robi.
Melalui program pembinaan dan pendampingan, BI Balikpapan membantu pelaku usaha seperti Amiroh dalam memperbaiki tata kelola bisnis, mulai dari pencatatan keuangan, efisiensi produksi, hingga pengendalian mutu produk.
Lebih lanjut, Robi mengungkapkan, pendampingan ini juga mencakup peningkatan standar higienitas serta pemenuhan aspek legalitas pangan seperti PIRT dan sertifikasi halal.
“Dengan demikian, produk abon ikan asin layur yang dihasilkan tidak hanya memiliki cita rasa khas, tetapi juga memenuhi standar keamanan dan kualitas yang dibutuhkan pasar yang lebih luas,” ujar Robi.
Selain itu, BI Balikpapan turut berkontribusi dalam memperkuat identitas produk melalui pengembangan kemasan dan branding.
Abon Amiroh yang sebelumnya mungkin dipasarkan secara sederhana, didorong untuk memiliki tampilan kemasan yang lebih menarik, informatif, dan sesuai dengan selera konsumen modern.
“Hal ini menjadi langkah penting agar produk mampu bersaing di pasar ritel maupun sebagai oleh-oleh khas daerah Balikpapan,” kata Robi.
Dari sisi pemasaran, tambah Robi, BI membuka akses yang lebih luas bagi UMKM binaannya melalui keikutsertaan dalam berbagai pameran dan event promosi, baik di tingkat regional maupun nasional.
“Kesempatan ini memberikan ruang bagi produk seperti Amiroh untuk dikenal lebih luas dan menjangkau pasar baru,” terang Robi.
Tidak hanya itu, BI juga mendorong digitalisasi UMKM, termasuk pemanfaatan QRIS untuk transaksi dan penggunaan platform digital sebagai sarana pemasaran. Transformasi ini membuat UMKM lebih adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen di era digital.
Upaya-upaya tersebut telah memberikan dampak nyata bagi perkembangan Abon Ikan Asin Layur Amiroh. Produk menjadi lebih berkualitas, kemasan lebih profesional, dan jangkauan pemasaran semakin luas.
Menurut Robi, secara bertahap, usaha ini tidak hanya mampu meningkatkan penjualan, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai salah satu produk unggulan olahan perikanan khas daerah.
Ke depan, lanjuta Robi, BI Balikpapan berharap UMKM seperti Amiroh dapat terus berkembang dan naik kelas. Harapan tersebut mencakup kemampuan untuk menembus pasar nasional bahkan internasional, didukung oleh standar produk yang semakin baik serta sertifikasi yang lebih lengkap.
Selain itu, BI mendorong UMKM agar semakin mandiri, tidak hanya mengandalkan bantuan, tetapi mampu mengelola usaha secara profesional dan berkelanjutan.
Lebih jauh lagi, Robi menambahkan, BI Balikpapan juga menaruh harapan pada terbentuknya ekosistem usaha yang kuat, di mana pelaku UMKM, pemasok bahan baku, hingga jaringan distribusi dapat saling terintegrasi.
Dalam konteks Amiroh, hal ini berarti adanya sinergi antara nelayan sebagai penyedia ikan layur dengan pelaku usaha pengolahan dan pasar.
Dengan ekosistem yang solid, pengembangan UMKM tidak hanya memberikan manfaat bagi pelaku usaha secara individu, tetapi juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.
“Dengan peran aktif dan berkelanjutan dari BI Balikpapan, serta komitmen dari pelaku usaha seperti Amiroh, diharapkan UMKM lokal mampu menjadi motor penggerak ekonomi yang tangguh, inovatif, dan berdaya saing tinggi di masa depan,” tutup Robi. (Michael M)
